Sepenggal Cerita dari Gerbang Ganesha
Petang ini, tadi selepas sholat maghrib di Salman, saya naik angkot Panghegar-Dipati Ukur dari gerbang Ganesha. Angkotnya masih kosong melompong, hanya saya penumpang yang naik. Ya karena angkotnya baru saja putar balik, jadi saya penglarisnya, hahaha…kemudian saya naik di bangku depan karena memang itu bangku favorit saya, apalagi kalau supirnya tidak merokok. Begitu saya duduk, supir angkotnya bilang “tunggu sebentar ya neng” dan karena mood saya sedang sangat baik dan CERIA! (hihihi numpang promosi ah) maka saya tak keberatan sang supir mengetem demi menunggu penumpang lain naik ke angkotnya. Lumayan, ada cemilan dari Milong yang bisa saya makan di angkot sambil menunggu penumpang lain.
Singkat cerita, sambil menunggu itu pak supir mulai bertanya ke saya, jurusan apa, asli mana, kemarin ada yang meninggal ya, dsb. Dan….JRENG! tak dinyana tak disangka, bapak ini dulunya mahasiswa Geodesi angkatan 92 D:
Saya tidak berani bertanya “Bapak kenapa jadi supir angkot?” karena saya rasa itu terlalu tidak sopan, dan lagi kami baru juga bertemu beberapa menit. Saya takut jika akhirnya ada cerita pahit yang harus beliau kuakkan pada seorang asing tak dikenal seperti saya. Dan saya juga bingung nantinya harus bersikap seperti apa. Dari bincang-bincang saya dengan pak supir, diketahui bahwa beliau “kemarin” (kemarin nya itu saya tidak yakin berapa lama yang lalu) sempat ada proyek di luar pulau Jawa. Saya asumsikan “kemarin” nya itu beberapa hari sebelum hari ini (gatau juga sih…)
Agak kaget juga tau ada mahasiswa ITB yang ujung-ujungnya jadi supir angkot. Tapi siapa yang tau kalau beliau sungguhan supir angkot? Bisa jadi karena sedang ingin merasakan jadi supir angkot di tengah ramainya lalu lintas Bandung pada sore hari, maka beliau jadi supir angkot (oke, ini khayalan ala FTV). Wallahu’alam…
Tapi satu hal yang pasti, jangan mentang-mentang mahasiswa perguruan tinggi ternama seantero negara lantas membuat kita yakin akan berhasil tapi tidak melakukan apa-apa untuk menjadi berhasil. Yang membuat seseorang berhasil kan ya dirinya sendiri, kompetensi yang dimilikinya, dan yang lain-lain termasuk izin dari Yang Maha Kuasa. Bukan karena embel-embel universitas.
Pada akhirnya, tulisan ini saya buat sebagai refleksi untuk diri sendiri. Sudah sejauh mana saya berusaha untuk menjadi berhasil di kemudian hari?
s!b: doakan saya bisa menjaga semangat mengerjakan tugas akhir ini. Proses ini menyenangkan, namun tidak untuk kedua kalinya. Bismillah…